CompaniesPeople

Johnny Widodo, Direktur OVO yang Awalnya Tak Tahu Dunia Fintech Kini Berada di Lingkaran Jawara

Boleh jadi ketika menyebut nama Johnny Widodo, orang akan langsung teringat OVO. Maklum, belakangan ini Johnny makin sering menghiasi media. Dia juga getol berbagi perspektif dan pengetahuan dalam forum skala nasional hingga menjadi dosen tamu di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tak jarang pula dia turut dalam pembinaan pengusaha kecil setingkat warung maupun pedagang kaki lima. Kehadirannya bukan semata untuk mengenalkan dompet digital besutan PT Visionet Internasional itu.

Justru Johnny hadir untuk meningkatkan literasi dan akses keuangan ke khalayak dari berbagai lapisan melalui teknologi finansial (tekfin) atau financial technology (fintech).

Hasilnya, kini OVO memiliki lebih dari 150 ribu rekan merchant. Sedangkan jumlah transaksi harian OVO mencapai 1 juta transaksi. Capaian itu akan terus berkembang seiring makin melonjaknya tingkat literasi keuangan masyarakat.

Johnny Widodo, Direktur OVO. (Setiapsen.com/dok pribadi)
Johnny Widodo, Direktur OVO. (Setiapsen.com/dok pribadi)

Namun, siapa sangka kalau salah satu orang yang membidani lahirnya OVO itu ternyata tidak tahu dunia digital. Johnny mengaku dirinya sama sekali belum memahami industri digital.

“Jujur waktu masuk dunia digital, saya tidak tahu apa-apa,” katanya dalam obrolan santai bersama Setiapsen.com di markas Venturra Capital, Lippo Kuningan lantai 30, Jakarta Selatan. Venturra merupakan lembaga investasi besutan Lippo Group yang juga memayungi Visionet Internasional.

“Tapi jika ditanya, tiga tahun lalu siapa yang expert di fintech, juga tidak ada orangnya kan?” Johnny melanjutkan.

Johnny mengatakan dirinya selalu haus akan pengetahuan dan tantangan baru. Itu sebabnya dia tak sungkan ketika tiga tahun lalu mendapat tawaran untuk bergabung di Lippo X sebagai Head of Business Development. Kuncinya, harus cepat belajar.

Kesenangan Johnny pada tantangan bisa dilihat dari perjalanan karirnya yang lintas industri. Johnny mengawali karir di ranah hardcore enginering. Khusus yang ini, sesuai dengan minat pendidikan yang dia tempuh.

Sejak SMA dirinya masuk kelas IPA. Kuliahnya S1 dan S2 di Nanyang Technological University, Singapura juga mengambil jurusan Materials Engineering. Johnny ternyata pernah menjadi salah satu anggota tim yang mengembangkan microchips generasi pertama Microsoft Xbox 360. Alumnus SMA Karunia itu juga memiliki 35 hak paten serta telah menerbitkan 25 karya ilmiah.

Selepas itu, dia bekerja di A.T. Kearney sebagai konsultan selama 3 tahun 5 bulan. Pada Juli 2014, bergabung dengan PT Central Proteina Prima Tbk. Selama 1 tahun 5 bulan di sana, Johnny merasakan dua posisi yakni Assistant VP, Head of Business Development dan Assistant VP, Head of Strategic Planning Group.

Dari situ baru masuk ke dunia digital. Bergabung sebagai Head of Business Development di Lippo X. Hingga kini didapuk sebagai Direktur OVO.

Kabar baiknya, Johnny juga berbagi tips karir yang bisa kamu jadikan inspirasi. Berikut penuturan Johnny.

Hargai Proses, Jangan Instan
Perkembangan zaman sekarang membuat orang ingin segala sesuatu instan. Dari mulai cara mendapatkan informasi hingga mendapatkan uang. Misalnya, menjadi Selebgram atau Youtubers bisa kaya. Makin banyak anak muda yang mindset-nya ke arah itu.

Prinsip saya, banyak hal yang tidak bisa dilakukan secara instan. Masih perlu proses dan jenjang waktu.

Jangan Takut Mencoba
Kalau dulu orang tidak cocok dengan pekerjaan pasti takut resign. Nanti dululah, baru enam bulan, nanti resume-nya jelek. Sekarang, kalau pekerjaan itu tidak membuatmu berkembang, tinggalkan! Karena, waktu sangatlah mahal.

Saya belajar dari diri saya sendiri. Saya tujuh tahun bekerja di engineering, pada akhirnya saya tidak di bidang engineering sama sekali. Meskipun saya bisa bilang, saya bisa mempelajari sesuatu dari sana. Tapi, bila saya melihat ke belakang, saya tidak akan menghabiskan waktu untuk itu.

Jangan takut gagal
Wajar-wajar saja sih orang gagal. Yang penting cepat bangkit dan jangan sampai kegagalan itu terulang. Anak-anak muda kadang egonya tinggi. Tidak masalah. Kejar semua yang ingin kamu pelajari. Tapiā€¦.

Kita Butuh Mentor
Baik itu informal maupun formal. Karena, suka tidak suka, mereka sudah melalui proses. Punya pengalaman. Jadi apa yang mungkin kamu tidak lihat dan main tabrak saja, mentor itu sudah tahu kamu akan jatuh bila jalan terus. Dengan belajar dari mentor, kamu bisa mengelola risiko.

Pengalaman saya ketika SMA, saya mencari role model untuk diikuti. Tapi ketika misalnya mentor saya itu mencapai sukses di usia 28 tahun, dan saya bisa mencapainya di usia 25 tahun, maka saya cari role model baru.

Yang paling penting, kamu harus tahu di mana kamu berada. Kemudian cari dan lampaui gap antara kamu dan mentor itu. Bila sudah, segera cari mentor baru. (San)

Mungkin Penting Buat Kamu:


Tags

Related Articles

3 Comments

  1. Ovo memang sampai sekarang kalau menurut saya jadi metode pembayaran digital paling diandalkan karna promo cashback dan pembayaran bisa untuk apa saja, termasuk parkir. Jadi sangat efektif.

    IG & Twitter : ZhafiraNZ

  2. Semoga bisa menginspirasi dan memotivasi kita, kegagalan adalah kesuksesan yg tertunda jadi jangan pernah takut gagal sesering apapun kita gagal pasti ada suksesnya sekecil apapun itu kesuksesan selalu bersyukur. Bangga sekali kalau banyak orang Idonesia punya semangat seperti Johnny Widodo , bisa jadi tambah maju negara kita. Hadirnya Ovo sebagai aplikasi pintar pembayaran digital, tentunya memudahkan kita semua dalam bertransaksi.
    ID Instagram : @lesthia.vidiana
    ID Twitter : @lesthiavidiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close