Save

Membiayai Orangtua Bisa Bikin Millennial Pusing Kepala

Kasih orangtua sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan. Begitu pepatah lama mengajari bahwa sebesar apapun bakti yang diberikan anak tak akan mampu membayar kasih sayang orangtuanya.

Kendati demikian, seorang anak yang telah bekerja tetap akan memberikan sebagian gajinya untuk orangtua. Sebagai tanda bakti pada orang yang telah membesarkan. Meski tak ada aturan tertulisnya. Tradisi (kebiasaan) orang Indonesia itu berlaku sejak purba hingga sekarang.

Faktanya, survei Cigna 360 pada 1.000 responden di Indonesia menyebut 44% masyarakat berharap anak mereka akan mengurusnya saat pensiun kelak. Kondisi ini kerapkali membuat anak-anak muda pusing mengatur keuangan.

Baca: Gajimu Kecil? Kamu Enggak Sendirian!

Biaya kesehatan pensiun (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)
Ilustras. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Lestanti P, 25 tahun, salah satunya. Teller di salah satu bank swasta itu justru merasa cemas saat gajian. “Bingung ngatur-nya. Bayar kos, biaya bulanan, kadang tidak ada dana untuk kirim orangtua di kampung,” kata perempuan asal Jawa Timur itu. Gajinya sedikit di atas UMP Jakarta.

Meski tiap hari berurusan dengan uang, Lestanti tak mahir mengelola keuangan pribadi. “Tak pernah ada pelajaran mengatur keuangan pribadi di sekolah,” katanya.

Sebenarnya ada beberapa tips yang mungkin dapat mengurangi “pusing” karena harus berbakti ke orangtua.

Rencana keuangan, pengeluaran, gaji/Setiapsen.comshutterstock
Foto: Shutterstock

Ingat pelajaran SD

Kamu perlu telisik apa saja kebutuhan kamu. Masih ingat kan pelajaran SD tentang kebutuhan primer, sekunder, dan tersier? Nah, mulailah bikin pos pengeluaran.

Kalau kamu anak kos, biaya sewa kos itu masuk kebutuhan primer. Sama seperti makan dan minum. Tapi, jangan sampai pengeluaran makan-minum melebihi uang kos sebulan.

Kalau semua pos wajib telah terpenuhi, jangan lupa untuk menyiapkan dana darurat. Tidak perlu pusing soal jumlahnya. Sesuaikan dengan kemampuan kita. Yang jelas, pisahkan rekening dana darurat dengan rekening sehari-hari.

Setiapsen.com/Foto: Shutterstock
Foto ilustrasi. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Kartu kredit, hmm….

Kamu akan tahu plus-minus kartu kredit setelah mempraktikkan “pelajaran SD” tadi. Dan, dengan sendirinya menjadi bijak menggunakan kartu kredit.

Kartu kredit tidaklah dilarang. Tapi sebaiknya kamu juga bisa memanfaatkan kartu tersebut. Misalnya, kamu bisa memanfaatkan promo beli 2 bayar 1. Kamu bisa mengajak temanmu untuk patungan membeli barang tersebut. Jadi kamu bisa mendapatkan separuh harga.

Biaya kesehatan

Bakti anak kepada orangtua tak melulu berupa uang. Kamu bisa ikut mendaftarkan orangtua pada fasilitas kesehatan. Bila membayar asuransi swasta terlalu memberatkan, masih ada pilihan BPJS Kesehatan.

Iuran atau premi BPJS Kesehatan tidak terlalu mahal. Kelas 1 sebesar Rp80.000 per bulan, kelas 2 Rp51.000 dan iuran kelas 3 sebesar Rp25.500 per bulan. Dengan begitu, kita tak perlu waswas bila sewaktu-waktu orangtua kita sakit.

Sementara kamu sebagai pekerja sudah mendapat fasilitas ini dari perusahaan. Bahkan, kebanyakan perusahaan di Indonesia juga mengikutkan karyawannya di asuransi swasta.

ilustrasi keuangan, saham, investasi/setiapsen.com
Foto: Shutterstock

Siapkan masa depan

Bila kamu merasa pusing lantaran harus membiayai orangtua, jangan biarkan anak kita kelak mengalami hal yang sama. Mulai sekarang, ada baiknya kamu sisihkan uang untuk investasi masa depan.

Pikirkan tujuan keuangan kamu. Misalnya untuk membeli rumah, dana sekolah, bahkan pensiun. Banyak pilihan investasi yang bisa kamu pilih. Bila bisa membiayai hidup saat tua kelak, kita bisa membebaskan anak dari beban dan menentukan hidupnya sendiri.

Barangkali dengan menjalankan tips tadi bisa mengurangi rasa cemasmu saat gajian. Tentu tingkat keberhasilannya bergantung pada masing-masing orang. Atau kamu punya tambahan tips lain? Silakan tuangkan di kolom komentar.

Mungkin penting buatmu:

Tags

Related Articles

6 Comments

  1. Tips yang bagus 👍👍👍 bagai manapun juga mambantu orang tua bukanlah hal yang harus di pusingkan kalau di jalani dengan hati yang ikhlas dan lapang dada 🙂

    IG. @iamhm.sir

  2. Setidaknya bagi millenial dengan gaji yang minim dapat menerapkan hal tersebut, untuk membagi segala sesuatunya sesuai dengan porsi masing-masing dan tahu mana yang prioritas dan mana yang tidak.
    Instagram : zhafiranz
    Twitter : zhafiranz

  3. ada juga masyarakat yang berharap kelak anak mereka akan mengurusnya saat pensiun kelak dan adapula orang tua yang telah mempersiapkan dari dini sebagai bekal saat masa pensiunnya. Kalo untuk mengurus orangtua itu menurut saya adalah kewajiban bagi seorang anak yang memang mampu untuk melakukannya. Kebanyakan juga seoarang anak yang kuliah atau kerj setelah kuliah kebanyakan cenderung mereka banyak yang menikah dan mereka sudah mempunyai tanggungan keluarga sendiri juga yang tentu tidak akan full untuk mengurus orantuanya karena anak juga ada tanggungan dan kewajiban lain. apakah itu juga alasan kenapa banyak orang yang memilih menikah setelah sukses tapi apakah itu juga jawaban kenapa orang menikah sedangkan kebutuhan orang tuanya belum sepenuhnya bisa dibantunya? IG : @nurcoolice_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close