Investasi

Mengenal Reksadana yang Kian Ramai Peminat

Dalam dua tahun terakhir, produk investasi reksadana menunjukkan geliat yang cukup signikan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyebut, per Juli 2018, jumlah investor reksadana di Indonesia mencapai 822.000 orang. Angka ini melesat tajam dibanding tahun 2016 yang hanya sekitar 340.000 investor.

Boleh dibilang, sebelum tahun 2016, peningkatan jumlah investor reksadana di tanah air sangat lambat. Bayangkan, di Indonesia, reksadana sudah dikenal sejak era 1970-an. Dalam kurun waktu nyaris setengah abad, jumlah nasabah di Indonesia masih belum menembus angka satu juta. Padahal penduduk Indonesia ada lebih dari 250 juta jiwa.

Baru dalam kurun waktu dua tahun terakhir inilah terjadi peningkatan signifikan. Sangat mungkin jumlah nasabah tembus 1 juta investor hingga tutup tahun ini. Peningkatan signifikan ini terjadi selain karena tren suku bunga acuan yang makin membuat susut bunga deposito juga karena akses pembelian reksadana makin mudah.

Gampang diperoleh

Dulu membeli reksadana harus di bank yang menjadi kepanjangan tangan Manager Investasi (MI). Atau, harus mengakses ke MI langsung. Sekarang, membeli reksadana bisa melalui marketplace. Misalnya, melalui Tokopedia atau Bukalapak.

Logo reksadana/OJK

Investor tidak perlu lagi repot-repot bertatap muka dengan agen penjual reksadana. Tak ribet mengisi banyak form. Membeli reksadana di marketplace prosesnya ringkas. Kemudahan akses itulah yang mendorong calon investor untuk menjajal berinvestasi di reksadana. Apalagi, marketplace yang menjual reksadana itu juga sering memberikan tawaran-tawaran menarik.

Tertarik mengoleksi reksadana?

Sebaiknya kenali dulu apa itu reksadana, ya. Menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995, reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh MI.

Portofolio efek itu misalnya kumpulan surat berharga seperti saham, obligasi, deposito, atau lainnya. Penyebaran investasi itu berdasarkan kesepakatan dengan nasabah. Nah, nantinya secara berkala, nasabah akan mendapat laporan kinerja investasi dari MI. Laporannya seputar kinerja produk, komposisi aset, dan portofolio efek.

Ilustrasi investasi, keuangan, finansial, saham, reksadana/setiapsen.com
Foto: Shutterstock

Ada empat jenis reksadana yang diperdagangkan. Pembagian jenis tersebut berdasarkan pada tingkat profil risiko masing-masing reksadana.

Reksadana saham

Produk ini memiliki risiko yang paling besar ketimbang produk reksadana jenis lain. Sebab, sebagian besar portofolionya masuk ke saham. Dimana pergerakan naik turunnya harga sesuai pasar. Oleh karena itu, investasi ini cocok untuk keperluan jangka panjang.

Reksadana campuran

Reksadana ini cocok untuk orang yang ingin mendapatkan imbal-hasil lebih tinggi dari pasar uang tetapi risikonya tak sebesar reksadana saham. Sebab portofolionya sebagian masuk saham dan sebagian ke instrumen obligasi. Jadi ketika saham gontai, dana investor yang akan tergerus terlalu dalam.

Reksadana pendapatan tetap

Memiliki profil risiko menengah yang memberikan hasil pengembalian yang stabil. Portofolionya banyak ditaruh di efek utang atau obligasi. Risiko investasi di produk ini lebih besar ketimbang reksadana pasar uang.

Reksadana pasar uang

Investor yang memiliki tujuan investasi jangka pendek, cocok mengoleksi reksadana jenis ini. Produk ini dibeli untuk tujuan likuiditas saja. Portofolionya lebih banyak ke SBI atau deposito. Karena itu risikonya sangat rendah tapi return-nya juga terbatas.

ilustrasi keuangan, saham, investasi/setiapsen.com
Foto: Shutterstock
Tentukan Pilihan

Bila Anda tergolong investor pemula, sebaiknya banyak melakukan riset atau konsultasi dengan agen penjual reksadana. Sebab, dengan bantuan konsultasi itu, Anda akan mengenali profil risiko pribadi sehingga bisa mendapatkan produk yang cocok sesuai profil Anda.

Kalau Anda tergolong investor yang berani ambil risiko termasuk rugi dalam berinvestasi, Anda bisa langsung masuk reksadana saham. Tapi kalau investasi hanya sekadar untuk menjaga likuiditas keuangan dan tidak berani ambil risiko, ya, jauhi reksadana saham. Belilah reksadana pasar uang. Dengan catatan, imbal hasil Anda juga mini.

Bagaimana, apakah sudah siap atur kocek ke reksadana?

Tags

Related Articles

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close