Investasi

Millennial Enggan Mikirin Investasi. Benarkah?

Frase ‘investasi’ menurut kebanyakan millennial masih tabu untuk didiskusikan. Anggapan bahwa investasi adalah kuno, cara orang tua cari uang, nggak zaman lagi dan yang paling parah adalah anggapan ‘kalau harus menyisihkan uang untuk investasi, gimana caranya gue bisa traveling nanti?’

Generasi yang kini berada pada kisaran usia 18 hingga 38 tahun ini sering dibilang konsumtif dan tak punya perencanaan keuangan untuk masa depan ini juga menganggap bahwa investasi itu akrab dengan kerugian dan bukan hal penting untuk dilakukan segera.

Benarkah seperti itu? Pada dasarnya, millennial memang tak terlalu senang untuk berfokus pada perencanaan masa depan, terutama soal keuangan. Namun, sebetulnya harapan untuk berinvestasi tetap terlihat. Laporan dari Merill Edge, Divisi Perbankan Retail dari Bank of America yang dirilis oleh Kompas menurunkan data bahwa generasi muda terbukti suka melakukan berbagai penghematan.

Dari 1.000 kalangan millennial yang dianggap hidup makmur, 34 persennya mengaku lebih suka menyimpan uang gaji mereka. 54 persennya mengaku menabung untuk beli rumah impian, 42 persen untuk traveling. Yang menarik adalah 66 persen dari mereka mengaku akan mengandalkan uang tabungan sebagai pegangan sumber dana 20 tahun mendatang.

Data yang berlawanan didapat justru dari generasi sebelumnya, yaitu generasi X. Generasi yang lahir pada era 1960 hingga awal 1980-an ini 54 persennya mengaku akan mengandalkan uang pensiun sebagai sumber dana hari tua.

Berbeda dengan kajian Jawaposmillennial dinilai telah terjebak dalam sifat konsumtif yang memprihatinkan namun justru disukai oleh para pebisnis untuk memanfaatkan mereka sebagai ikon produk. Millennial di Indonesia memang lebih suka menghamburkan uang demi kepentingan sesaat atau short term daripada keuntungan investasi jangka panjang.

Selain itu, proses pengajuan kartu kredit yang semakin mudah juga disinyalir menjadi penyebab millennial mudah terjebak dalam lingkaran hutang yang menyulitkan untuk mulai memikirkan investasi. Di sisi lain, fakta ini juga menyeret millennial untuk lebih suka belanja daripada berinvestasi.


Mungkin Penting Buat Kamu:


Beberapa anggapan miring soal investasi yang sering menghantui millennial adalah:

Resiko tinggi

Dalam berinvestasi memang dikenal istilah ‘semakin tinggi resiko yang kamu ambil, semakin besar pula kesempatan mendapatkan keuntungan di kemudian hari nanti.

Dokumen legal perumahan/Setiapsen.com/Foto: Shutterstock
Setiapsen.com/Foto: Shutterstock

Hanya untuk orang berduit

Siapa bilang investasi hanya untuk orang mapan dan kaya raya? Masih banyak generasi millennial yang beranggapan bahwa investasi adalah hanya untuk orang berduit dan butuh dana besar. Itu sebabnya millennial yang masih bergaji pas-pasan pastinya tidak akan memilih investasi sebagai langkah penyeimbang anggaran masa depan.

Tak ada manfaat jangka pendek

Anggapan keliru ini sebetulnya sangat mudah dipatahkan, karena semakin menunda investasi sebetulnya kamu juga semakin merugi. Pasalnya bila kamu menyimpan uang di rumah sendiri atau di bank, maka nilainya pun beresiko meredup karena tergerus laju inflasi.

Banyak biaya tambahan

Memang ada beberapa produk investasi yang mengharuskan nasabahnya untuk membayar sejumlah uang. Selain pajak biasanya ada juga biaya manajemen dan administrasi lainnya. Namun nilai dari biaya manajemen dan lain-lain ini sebetulnya cukup kecil sehingga potensi keuntungannya masih bisa mengalahkan inflasi.

Modalnya tak bisa diambil sewaktu-waktu

Padahal untuk menghindari uang kamu tak bisa dicairkan dalam waktu dekat, kamu bisa mencari jenis investasi yang bersifat likuid jadi uangnya bisa lebih fleksibel untuk diambil lebih sering. Reksadana dan emas adalah contoh investasi yang bersifat likuid. Kamu tak perlu menunggu lama kan untuk bisa mencairkan dana dari penjualan emasmu?

Dan bila kamu ingin mempelajari ulang soal investasi, kamu juga bisa nge-check,ulasan kami di link berikut ini.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close