Save

Millennial: Muda Banyak Gaya, Tua Kaya Raya

Nyaris semua orang bermimpi bisa melakukan apa saja saat muda tanpa harus menderita di masa tua. Tak diragukan lagi, pameo itu bukanlah mitos belaka. Bisa menjadi kenyataan bila kita bisa menentukan prioritas dalam mengelola keuangan.

Perkaranya, hari ini dunia seolah ‘memaksa’ kita untuk terus berbelanja. Kapan pun dan di mana pun aneka promosi menggoda kita untuk mengeluarkan uang, bahkan berutang, cuma demi meningkatkan status sosial.

Apalagi kanal media sosial yang terus memacu ego kita untuk mendapatkan pengakuan. Dari mulai liburan, gawai teranyar hingga nongkrong di kafe, semata-mata untuk update media sosial. Urusan uang belakangan, yang penting ‘instagramable’.

“Generasi milenial menjadi korban ‘kejahatan’ dari publisitas yang mendorong perilaku konsumtif,” tulis institusi penasihat keuangan Bankrate. Studi Bankrate menyebut kalau milenial rata-rata nongkrong di kafe lima kali dalam sepekan. Pengeluaran yang tampaknya kecil itu bisa berakibat fatal.

Baca: Kapan Harus Memulai Investasi?

Gencarnya publikasi beragam produk, membuat milenial terus bernafsu untuk mendapatkan segala sesuatu yang ada di muka bumi. Padahal, bila Anda hidup untuk memiliki itu semua, apa yang Anda miliki tidak pernah cukup. Begitu kata Vicki Robin, penulis buku “Your Money or Your Life”.

Nafsu untuk mendapatkan semua inilah yang membuat milenial kerap terjerembab dalam masalah keuangan. Riset George Washingtong Global Financial Literacy Excellence Center terhadap 5.500 milenial menyebutkan, hanya 24 persen dari total responden yang mengerti prinsip keuangan.

Millenial Vs Utang

Temuan itu, diperkuat oleh laporan Bank of American Merrill Lynch yang menyebut bahwa 70 persen pengeluaran milenial untuk hal-hal yang bersifat jangka pendek.

Generasi millennials melepas penat seusai kerja. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)
Generasi millennials melepas penat seusai kerja. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Fakta-fakta itu membuat generasi milenial terkena cibiran: rentan terjerat utang, tak becus mengatur keuangan hingga punya masa tua yang suram. Alih-alih kaya raya, kebanyakan gaya di masa muda justru berbuah keprihatinan saat tua.

Lalu ungkapan muda kaya raya tua foya-foya itu cuman mitos belaka. Ah, siapa bilang.

Baca: Gajimu Kecil? Kamu Tidak Sendirian!

Mungkin kita bosan dengan kata “menabung” atau “bijak kartu kredit” pada berbagai nasihat pengelolaan keuangan. Itu tidak salah meski tidak seratus persen benar.

Sebab, satu-satunya kiat untuk kaya raya di masa tua adalah niat. Bila kamu masih membaca artikel ini, itu artinya niatanmu untuk kaya sudah bulat. Karena, beberapa tips ini akan membuatmu bisa tetap bergaya tanpa takut kehilangan masa depan.

Barang mahal, kenapa tidak?

Setiapsen.com/Foto: Shutterstock
Foto ilustrasi. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Kita semua paham bahwa hidup tidak bisa benar-benar menihilkan kemewahan. Dengan alasan mengapresiasi diri, bolehlah sesekali memanjakan diri dengan beli barang mahal.

Tanpa disadari, memimpikan barang mahal bisa memicu kamu memperketat pengelolaan keuangan. Yang harus diingat adalah barang itu bukan sekadar untuk memenuhi ego untuk mendapat pengakuan. Pastikan barang mahal itu bisa meningkatkan kreativitasmu.

Misalnya, kamu hobi desain. Memimpikan laptop atau gawai mahal bukanlah sebuah kesalahan. Karena perangkat itu bisa meningkatkan nilai jual karyamu kelak. Ini namanya investasi.

Tapi ingat! Setelah gawai berharga belasan atau puluhan juta itu sudah di tangan, kamu harus konsisten berkarya agar investasi itu tak raib sia-sia. Pastikan karya Anda menghasilkan pundi-pundi rupiah syukur-syukur dolar AS.

Traveling, boleh kok….

Menikmati liburan atas hasil keuntungan investasi/setiapsen.com
Menikmati liburan. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Urusan jalan-jalan memang tak bisa dipisahkan dari kids zaman now. Milenial telah terbiasa mencari pengalaman dengan mengunjungi tempat-tempat baru. Keperluannya, tak jauh-jauh dari sekadar menunjukkan jati diri dengan memamerkan pengalaman itu di media sosial.

Biar hobi jalan-jalan tak menghabiskan uang, coba carilah peluang gratisan. Maksudnya, bukan nebeng teman. Itu benalu namanya.

Coba bikin tulisan, foto, dan video dari lokasi perjalanan kamu. Lalu, tawarkan konten itu ke media-media. Tentunya, kamu harus kreatif dalam menciptakan konten. Usahakan bikin konten lebih dari lima tema. Meskipun honor yang diterima belum bisa menutup semua biaya perjalanan, setidaknya traveling kamu tidak sekadar hura-hura.

Atau bisa juga kamu menjadi sukarelawan di kawasan bencana. Jangan salah, lokasi bencana juga punya sisi menarik untuk dikulik. Kalau yang ini, jangan terlalu mengharapkan bayaran. Yang pasti kamu jadi punya pengalaman menarik dalam kerja sosial.

Jauhi kurir

Belanja, keuangan, duit/setiapsen.com/shutterstock
Nikmatnya belanja di gerai fisik. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Sadar atau tidak layanan terpadu transportasi online cenderung membuat orang malas. Seringkali kita meyerahkan urusan belanja hingga makan kepada kurir. “Habisnya mudah sih, enggak usah capek.” Tidak salah memang alasan itu. Tapi jangan ngeluh juga kalau uang hasil capek kerja cepat habis pula.

Percayalah, mendatangi langsung gerai fisik lebih mengasyikkan. Kamu bisa menyeleksi kualitas produk secara langsung, bahkan bisa mendapatkan harga murah. Satu lagi, badan kamu juga bergerak, yang artinya ini investasi untuk kesehatan.

Coba hargai waktu

Rencana keuangan, pengeluaran, gaji/Setiapsen.comshutterstock
Foto: Shutterstock

Ungkapan waktu adalah uang tetap berlaku sampai kapan saja. Ambil contoh, kamu mendapat gaji Rp5 juta per bulan. Dengan 20 hari kerja, artinya upahmu Rp31.250 per jam atau Rp250.000 dalam sehari.

Jika biaya sekali hangout sebesar Rp250 ribu, maka kamu telah menghabiskan satu hari kerja hanya untuk sekejap nongkrong!

Tidak ada salahnya kan sesekali memanjakann diri? Iya sih. Tapi coba pastikan bahwa nongkrong itu memberikan faedah, misalnya peluang bisnis dengan kenalan baru. Bukankah Warren Buffet berpesan agar jangan pernah kehilangan uang sepeserpun?

Uangmu karyawanmu

Ilutrasi investasi, keuangan, saham, reksadana, fintech/setiapsen.com
Setiapsen.com/Foto: Shutterstock

Perlakukan uang sebagai rekan kerja. Sebagaimana umumnya rekan, antara kamu dan uang harus bahu membahu memupuk kekayaan.

Banyak orang mengeluh telah capek kerja tapi hasilnya segitu-gitu saja. Atau pergi pagi pulang malam cuma buat makan sebulan.

Saatnya kamu berontak. Jangan mau terus-terusan dibodohi bahkan diperbudak uang. Kini giliran kamu mempekerjakan uang. Tiap rupiah yang kamu miliki harus menghasilkan kekayaan lagi.

Caranya, silakan letakkan uang kamu di instrumen investasi. Imbal-hasil investasi lebih menggiurkan ketimbang rekening tabungan. Entah itu reksadana, saham, surat utang, emas, atau menanamkan modal secara langsung kepada teman kepercayaan. Terpenting, selektiflah dalam memilih instrumen investasi.

Beli aset fisik

Kredit pemiilikan rumah (KPR), home loan/Setiapsen.com/Foto: Shutterstock
Pasangan muda tengah merencanakan kepemilikan rumah. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Orang-orang tua kita selalu bilang, punya rumah sendiri lebih bagus ketimbang kontrak. Sesederhana apapun bentuk rumahnya.

Nasihat itu bukanlah omongan kuno yang tak berlaku lagi. Populasi manusia kian hari kian bertambah. Sedangkan luas bumi masih sama. Itu artinya, tanah adalah aset yang selalu berharga. “Senin, harga naik!” begitu kata iklan properti di tv-tv.

Nanti saja beli rumah setelah nikah. Kalau yang sudah punya calon sih bisa dimaafkan. Nah yang jomblo gimana? Beli rumah tak bisa ditunda. Daripada uang habis tidak ketahuan ujungnya, lebih baik mulai cari cicilan KPR yang sesuai kemampuan.

Tips di atas hanyalah saran. Setiap orang bisa memodifikasi sesuai kebutuhan masing-masing. Yang pasti, bila keuangan dikelola dengan fun sesuai prioritas, kaya raya di masa tua bukanlah mitos belaka.

How you spend your money is how you vote on what exists in the world,” tulis Vicki Robin dalam buku yang ia tulis bersama Joe Dominguez dan Monique Tilford itu.

Mungkin penting buatmu:

Mengenal Investasi Emas yang Tak Kenal Inflasi
Banyak Pembeli Rumah Merugi karena Abaikan Hal Ini

Tags

Related Articles

15 Comments

  1. Setiap pagi aku membuka mata untuk melihat apa yang bisa kulakukan hari ini dan apa yang harus aku lakukan besok, memperbanyak relas bertemu dengan orang-orang baru, terus berinovasi, membuat ide-ide kreatif tapi yang terpenting melakukan hal yang memang kita suka. Terus berjuang dan tidak lupa berdoa. IG @nurcoolice_

  2. Setiap pagi aku membuka mata untuk melihat apa ang bisa kulakukan hari ini dan apa yang harus aku lakukan besok. Perbanyak relasi bertemu dengan orang-orang baru, kretaif dan inovatif dan yang terpenting apa yang saya lakukan adalah apa yang saya suka. Tetap berjuang dan berdoa. IG : nurcoolice_

  3. Ingin sekali belajar buat ga boros. Tips nya sih bener banget nih yang dibilang setiapsen. Kurangin deh ngeliatin olshop…hehe, karna setiap sen yang kita keluarkan sangat berarti buat kehidupan kita. Apalagi jalan hidup kita ini masih panjang brosist. IG : citra_mg

  4. Memang benar adanya.
    Generasi muda jaman sekarang banyak yang boros akan pengeluaran,untuk gengsi,untuk panjat sosial,dan lain sebagainya.
    beda dengan generasi orang tua yang lebih mawas diri terhadap keuangannya,seperti digunakan seperlunya saja,sampai ditabung pula untuk kebutuhan dimasa yang akan datang.
    Harusnya anak-anak muda di jaman milenial seperti sekarang ini meniru gaya hemat serta pengelolaan keuangan dari para generasi orang tua,agar para generasi milenial di masa yang akan datang tidak menjadi generasi keterbelakangan.
    Bagus isi artikelnya,ada bumbu-bumbu positive untuk menyadarkan para generasi muda akan pentingnya mengontrol tentang pengeluaran keuangan.

    Akun Instagram : @saputrabagus_putra

  5. Saya sangat setuju sekali dengan artikel ini. Mumpung masih muda kita harus bisa mengelola keuangan dengan sebaik mungkin, agar kerja keras kita tidak sia – sia, tidak habis begitu saja. Sehingga kita juga bisa membekali anak cucu kita dengan modal yang cukup dalam kehidupannya seperti mencukupi kebutuhannya juga biaya pendidikannya disamping masa tua kita yang sudah terjamin dari hasil kerja keras di masa muda.

    Akun Instagram : @asti_zhazie

  6. Millenial kebanyakan memang konsumtif, terlebih banyak faktor-faktor yang mendorong hal tersebut. Dalam artikel ini, point2ny sudah saya terapkan ke diri saya sendiri, dna terbukti memang membuat keuangan menjadi lebih baik dan memiliki masa depan. Selain itu, sya juga menerapkan sistem “Reward Yourself” , dimana saya baru membeli barang yang saya inginkan ketika saya sudah bisa mencapai suatu target. Hal itu tentu memicu saya untuk lebih produktif agar mencapai target.

  7. Memang benar punya rumah sndiri itu lebih baik drpd kita masih ngontrak yg sebulan sekali masih bayar ini itu nya jg, kalau dihitung” sih bisa banget buat beli rumah dg cara mncicil perbulannya, ,,sayangnya mngkin sbagiab orang masih blom mau sperti itu mngkin mreka tidak mau ambil resiko suatu saat sdang tidak memiliki ckup uang untuk membayar tagihan perbulannya, jadi kalau mnurut saya mndingan nabung dulu baru punya rumah smentara ngontrak dulu gpp lah.
    https://www.instagram.com/mutiaraehan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close