Companies

Presdir CekAja.com Bicara Tantangan dan Peluang Inklusi Keuangan Indonesia

Seiring kemajuan teknologi semakin banyak informasi bertebaran di berbagai kanal. Tak terkecuali di dunia keuangan. Berbagai institusi keuangan berlomba membuat konten untuk memasarkan produk-produk mereka.

Positifnya, masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang produk keuangan yang berarti meningkatkan literasi keuangan. Di lain sisi, masyarakat justru bingung dengan banyaknya pilihan tersebut. Ambil contoh produk pinjaman. Hampir semua bank memiliki produk pinjaman. Sementara, bank yang beroperasi di Indonesia jumlahnya puluhan, dengan segala plus-minus produknya.

“Di sinilah Cekaja.com hadir untuk menjembatani masyarakat dengan institusi keuangan. Sebagai toko finansial, masyarakat bisa melakukan perbandingan masing-masing produk institusi keuangan,” ujar Agatha Simanjuntak Ellis, Presiden Direktur (Presdir) PT Puncak Finansial Utama.

Cekaja.com hadir di Indonesia sejak April 2014 di bawah bendera PT Puncak Finansial Utama. Perusahaan ini bernaung di bawah grup C88 Financial Technologies Pte. Ltd yang juga memayungi situs eCompareMo.com di Filipina.

“Kami ingin membuka askes seluas-luasnya untuk jutaan masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Data World Bank, menyebut inklusi keuangan Indonesia masih berada di posisi 48,9%. Meski naik dari 36%, Indonesia dinilai masih tertinggal. Fakta itu disampaikan Meteri Keuangan Sri Mulyani saat membuka gelaran Indonesia Banking Expo (IBEX) 2018.

Presiden Direktur Cekaja.com Agatha Simanjuntak Ellis. (Setiapsen.com)
Presiden Direktur Cekaja.com Agatha Simanjuntak Ellis. (Setiapsen.com)

Sepanjang empat tahun kehadirannya, Cekaja.com telah melayani puluhan juta pelanggan. Perjalanan mereka bukan tanpa tantangan mengingat luasnya wilayah nusantara.

Berikut ini penuturan Agatha Simanjuntak kepada Setiapsen.com ihwal seluk beluk membuka akses keuangan di Tanah Air.

Masih banyak yang salah paham dengan Cekaja.com. Sebenarnya, apa sih Cekaja.com itu?

Kami menyebutnya sebagai toko atau marketplace finansial. Kami menyajikan produk berupa pinjaman, kartu kredit maupun asuransi.

Nah, kadang masyarakat menganggap kami memiliki produk keuangan itu. Tidak. Kami tidak memiliki produk keuangan. Produk yang kami sediakan adalah milik mitra kami, dalam hal ini institusi keuangan yang resmi dan teregulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia.

Cekaja.com membantu masyarakat yang ingin mengakses tiga produk keuangan tadi. Kami membantu dari tahap pengajuan hingga proses persetujuan. Namun, kami tidak melakukan approval sendiri. Persetujuan itu berada pada institusi keuangan: bank, pembiayaan, dan asuransi.

Lalu, seperti apa model bisnisnya? Darimana mendatangkan laba?

Yang pasti kita tidak mengambil fee dari customer. Kami tidak membebani apapun kepada pelanggan. Cekaja mendapatkan benefit dari mitra bisnis kami. Intinya, Cekaja hanya membantu untuk menghubungkan calon nasabah dengan lembaga keuangan.

Apa keuntungan masyarakat menggunakan Cekaja.com?

Seringkali masyarakat bingung dengan berbagai produk keuangan. Ambil contoh kartu kredit. Di situ ada beberapa komponen, seperti annual fee, bunga dan lain sebagainya.

Nah, CekAja.com memberikan perbandingan dari berbagai macam produk kartu kredit. Jadi masyarakat bisa membandingkan antarproduk. Apa saja kelebihannya, keuntungan menggunakan masing-masing produk. Pada akhirnya masyarakat bisa memilih produk mana yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Teknologi kami juga ada filter untuk mencocokkan profil pemohon dengan produk kartu kredit. Ketika orang mengajukan permohonan kredit, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab seperti umur, penghasilan, domisili dan lain sebagainya. Dari data tersebut, teknologi kami akan mengkalkulasi. Produk mana yang paling sesuai dengan profil calon debitur. Teknologi itu juga sangat membantu institusi keuangan.

Ada berapa institusi keuangan yang bermitra?

CekAja.com saat ini didukung oleh lebih dari 55 mitra dari bank, lembaga pembiayaan, asuransi, investasi, dan tekfin terpercaya di Indonesia. Produk dan layanan CekAja.com senantiasa diperbarui dan diperluas untuk mencakup segala jenis kredit, asuransi, tabungan, investasi, dan produk konsumen lainnya.

Seperti apa kinerja semua produk itu? Bagaimana komposisinya?

Pertama kredit tanpa agunan (KTA), disusul kartu kredit, dan terakhir asuransi. Tiga produk itu yang paling digemari oleh pelanggan kami.

Dari fakta itu, menurut Anda kenapa asuransi tidak ‘terlalu laris’?

Mungkin masyarakat Indonesia masih menganggap asuransi belum begitu penting. Selain itu, sepertinya belum ada regulasi yang mengharuskan orang untuk berasuransi. Meskipun ada aturan tentang BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Tapi, di bidang lain, saya rasa belum ada aturan yang mewajibkan. Seperti asuransi mobil pun kan tidak diharuskan. Kalau ada aturan yang mengharuskan untuk asuransi, pasarnya akan tumbuh lebih cepat. Meski begitu, kami yakin pasar asuransi akan makin bagus ke depannya. Apalagi makin banyak orang yang telah melek keuangan.

Ini artinya orang Indonesia belum terlalu minat untuk berinvestasi?

Bukan seperti itu juga. Karena kita tahu Indonesia sedang bertumbuh. Masyarakat kita juga didominasi usia 35 tahun ke bawah. Untuk saat-saat ini, mungkin mereka masih perlu berbagai pinjaman untuk masa depan mereka. Misalnya, pinjaman untuk investasi pendidikan. Itu kan meningkatkan standar hidup mereka di masa depan.

Yang paling penting adalah mereka mendapatkan pinjaman dari institusi yang legal. Itu menandakan mereka masih sehat secara finansial. Karena, bank ataupun institusi finansial yang diawasi oleh OJK sangat ketat dalam menerima pengajuan kredit dari debitur. Ada aturan-aturan yang harus diikuti untuk menentukan kelayakan kredit seseorang.

Soal slogan “Membuka akses finansial untuk jutaan masyarakat Indonesia” dari Cekaja.com. Apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan?

Berbicara industri, tentu saja kita harus membangun dan mengedukasi masyarakat. Apalagi industri keuangan. Dengan fakta belum maksimalnya tingkat literasi keuangan, maka Cekaja.com membuat konten-konten tentang keuangan.

Hasilnya?

Hingga kini, masyarakat berbagai kota di Indonesia telah tercakup jangkauan layanan CekAja.com. Kota-kota tersebut antara lain Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, Bandung, Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang, Denpasar, Semarang, Palembang, Yogyakarta, Sidoarjo, dan Balikpapan.

Dari sisi jumlah nilai pengajuan kredit?

Sepanjang semester I-2018, jumlah nilai pengajuan kotor dari pengguna (Gross Application Value/GAV) mencapai Rp15,16 triliun. Angka naik 37,81 persen dari capaian di semester I-2017 itu yang sebesar Rp11 triliun.

Perusahaan telah memproses, melakukan verifikasi, dan meneruskan lebih dari 370 ribu pengajuan atau aplikasi sepanjang semester I-2018 ke berbagai mitra di institusi keuangan. Jumlah tersebut naik dari sekitar 200 ribu aplikasi pada semester I-2017.

Selain literasi, apa sih tantangan di industri ini?

Karena luasnya wilayah Indonesia, maka infrastruktur menjadi isu yang cukup krusial. Tantangan lainnya adalah regulasi.

Sebenarnya kehadiran digital ini untuk memangkas kendala infrastruktur tadi. Namun, dalam industri keuangan, masih ada aturan yang mengharuskan penggunaan dokumen fisik. Cekaja.com telah mencoba untuk menjembatani ini, misalnya dengan mengambil dokumen permohonan calon debitur. Namun, kami tidak leluasa bergerak karena fokus kami bukan di kurir.

Nah, seandainya secara regulasi memungkinkan untuk paperless, tentu jangkauan produk finansial akan lebih luas lagi. Potensi pasar di daerah rural cukup menjanjikan.

Sebab, faktanya saudara-saudara kita di pelosok memiliki integritas dan kemampuan finansial untuk membayar pinjaman, misalnya. Namun mereka susah mengembangkan diri lantaran akses keuangan belum menyentuh daerahnya.

Menurut Anda seperti apa dukungan regulator terhadap isu tersebut?

Kami, para pelaku teknologi finansial (tekfin) mencoba untuk menerapkan sistem digitalisasi dokumen dengan perbankan. OJK sangat terbuka untuk berbagai impovement. Kami para pelaku tekfin terus berusaha untuk bersama-sama regulator untuk memperbaiki berbagai aturan.

Tujuannya, untuk memperbesar akses keuangan di seluruh Indonesia. Tapi saya pikir Indonesia jauh lebih maju dibading negara lainnya. Misalnya, dibanding Filipina, kita sudah lebih maju. (san)

Mungkin Penting Buat Kamu:

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close