Work

Smart Vs Hard Worker, Kamu yang Mana?

Banyak karyawan bekerja keras, namun hanya sedikit yang mencapai sukses. Ini terjadi karena bekerja keras saja tidak cukup. Faktanya, bekerja terlalu keras hingga lembur justru bikin produktifitas berkurang.

Karenanya, kamu perlu menjadi smart worker. Pekerja yang cerdas. Memang, agak susah untuk membedakan hard worker dengan smart worker. Tetapi, bila kamu mengalami hal-hal di bawah ini, kamu akan mudah menentukan pekerja tipe apakah dirimu sekarang.

(Baca juga: Politik Kantor Jangan Dihindari, Ini Cara Memenangkannya!)

Hard Worker

Politik kantor. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)
Ilustrasi (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Setidaknya, bekerja lembur bisa dijadikan salah satu ciri pekerja keras. Bila kamu sering bekerja hingga melebihi jam kerja, hati-hati. Bisa jadi karena ada yang salah. Entah itu kamu kurang efisien atau beban kerjamu yang berlebihan.

Lelah sepulang kerja

Apakah kamu merasa buru-buru ingin cepat sampai rumah setelah keluar kantor? Bila iya, ini berarti kamu telah menghabiskan banyak energi di tempat kerja.

Apalagi jika itu kamu alami tiap hari. Kelelahan sepulang kerja adalah tanda kamu terlalu keras bekerja. Dampak ini cukup wajar dialami oleh seorang hardworker. Karena tipe ini kerap bekerja melebihi waktu.

Kurang tidur

Pulang terlambat dari kantor karena menyelesaikan pekerjaan tidak selamanya bagus. Lembur memberikan efek tidak baik untuk kesehatan. Kamu sangat berpotensi kehilangan waktu tidur.

Hingga, pagi hari kamu akan merasa kurang bersemangat. Untuk sesaat mungkin bisa diatasi dengan kopi. Namun, efek kurang tidur menjadikan kamu kurang konsentrasi sampai susah mengontrol emosi. Tentu saja ini berpengaruh pada cara kamu menyelesaikan tugas-tugas kantor.

Revisi terus

Kamu merasa telah menyelesaikan tugas dengan baik. Tapi masih saja ada yang salah. Meski harus revisi berkali-kali, kamu tetap berusaha untuk memperbaiki. Dua jempol untuk usaha keras kamu.

Tapi di balik itu, kamu perlu waspada. Jangan-jangan revisi itu terjadi karena kamu lambat dalam belajar. Sehingga, bisa dibilang kamu kurang efektif dalam bekerja.

Multitasking atau ragu ke bawahan?

Hard worker biasanya ingin mengerjakan apa saja. Tugas yang mestinya menjadi tanggung jawab rekan kerja, dia akan mengambilnya.

Pada mereka yang menjadi pemimpin tim, hard worker juga mengerjakan porsi tugas bawahannya. Sepertinya, ini bukan hal bagus. Jangan-jangan, kamu tidak percaya pada kemampuan bawahan.

Smart Worker

Smart worker. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)
Diskusi menyenangkan dalam sebuah perusahaan. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Seiring perkembangan teknologi, istilah ini makin akrab. Apalagi sejak generasi millennial terjun ke dunia kerja. Sayangnya, masih banyak yang belum bisa menerapkannya.

Blaz Kos, pakar karir dari Agile Lean Life, menyebut sebagian orang punya bakat alami untuk menjadi smartworker. Dengan intuisinya mereka bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cara-cara cerdas.

Jarang lembur

Hei, ini bukan berarti mereka malas. Atau pengin ‘teng-go’ semata. Tidak pernah lembur bisa menjadi indikasi tingkat efisiensi seorang pekerja.

Sebagai karyawan, kamu bisa menyelesaikan tugas tepat waktu. Tanpa ada kesalahan. Apalagi bila pekerjaan bisa rampung lebih cepat. Ini artinya kamu bisa mengatur waktu dengan baik.

Punya banyak waktu

Banyak hal bisa kamu lakukan saat pulang kantor tepat waktu. Kamu bisa kumpul teman-teman untuk berbagi pengalaman. Atau, mengikuti beberapa kegiatan di komunitas yang kamu ikuti.

Bisa juga kamu pergi ke toko buku untuk sekadar menyegarkan atau menambah pengetahuan. Belajar juga bisa dilakukan dengan menyerap ilmu orang lain. Misalnya, ikut pop-up seminar atau pelatihan selepas kerja untuk meningkatkan kompetensimu.

Generasi millennials melepas penat seusai kerja. (Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)
(Setiapsen.com/Foto: Shutterstock)

Bawahan senang

Kalau kamu seorang smart worker yang menduduki posisi pemimpin tim, biasanya kamu pandai mendelegasikan tugas. Kamu juga bisa melihat dan memberdayakan potensi kolega di bawahmu.

Porsi pekerjaan masing-masing anggota tim jelas. Sehingga, tim kamu bisa menyelesaikan tugas tepat waktu. Ujungnya, anggota tim juga jarang bekerja lembur.

Makin sedikit orang yang lembur, pengeluaran perusahaan juga lebih efisien. Contoh kecilnya, hemat listrik, internet, telepon, air, dan sebagainya.

Hard dan Smart worker Sama Bagusnya

Kedua tipe pekerjaan ini sebenarnya sama bagusnya. Tentu saja, disesuaikan dengan momentum dan dinamika pekerjaan. Bekerja lembur beberapa waktu dalam satu bulan, bukan berarti kamu bekerja tidak efisien. Bisa jadi itu karena perusahaan lagi banyak proyek yang harus diselesaikan.

Hard worker punya nilai positif bahwa dirinya punya semangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Hanya saja, perlu sedikit perubahan khususnya dalam hal efisiensi waktu bekerja.

Smart worker kerap kali dianggap sebagai orang yang ogah bekerja. Apalagi bila kamu di posisi pemimpin tim. Salah-salah bawahan menilai kamu hanya pandai melimpahkan pekerjaan. Ada baiknya, golongan ini terus menambah kompetensi dan sesekali turun tangan.

Mungkin Penting Buat Kamu:

Kamu Bisa Memberikan Utang ke Negara
Wajib Dipraktikkan! 6 Cara Mudah Kaya Raya di Usia Muda
Cara Hidup Asyik Si Boros Duit, Mau Coba?

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close