Save

Ternyata ‘Orang Miskin’ Lebih Dermawan Ketimbang ‘Orang Kaya’

Keberhasilan dan cara orang mendapatkan kekayaan dapat berpengaruh pada kedermawanan seseorang. Yang menarik, orang yang mendapatkan uang lebih banyak (kaya), justru lebih kecil kemungkinannya untuk berbagi kekayaan. Sementara yang pengahasilannya rendah malah gemar berbagi.

Demikian setidaknya hasil penelitian dari Queen Mary University of London. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Basic and Applied Social Psychology.

Pada penilitian itu, para ahli melakukan eksperimen sosial dengan menggunakan uang. Penelitian melibatkan 58 sukarelawan wanita dan 36 pria. Mereka lantas dibagi menjadi dua kelompok. Yaitu, ‘orang kaya’ dan ‘orang miskin’.

Para sukarelawan diberikan uang sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Lalu, mereka diminta untuk menyumbangkan sejumlah uang. Uang itu nantinya akan dibagikan lagi kepada relawan. Para peneliti juga memberikan kebebasan para sukarelawan untuk mendapat ‘uang tambahan’.

Nah, jumlah serta cara mereka mendapatkan uang inilah yang berpengaruh pada sikap kedermawanan mereka. Yang mengejutkan, sukarelawan kelompok ‘orang miskin’ ternyata memberikan sumbangan lebih banyak ketimbang kelompok ‘orang kaya’.


Photo by Nicholas Green on Unsplash

Pengaruh cara mendapat kekayaan

Magda Osman, profesor di Sekolah Ilmu Biologi dan Kimia, Queen Mary, mengatakan, kedermawanan individu yang ada pada ‘status lebih tinggi’ bergantung pada cara mereka mendapatkan kekayaan.

“Cara mereka mendapatkan kekayaan, apakah dari usaha atau karena takdir, menjadi kunci untuk menentukan tingkat kerja sama mereka,” kata Magda Osman yang juga penulis utama studi itu.

‘Orang kaya’ ingin simpan uangnya sendiri

Terkadang kekayaan orang ditentukan secara kebetulan atau dalam kata lain warisan, hadiah dan sejenisnya. Ada pula kekayaan yang diperoleh dari hasil kerja keras.

Hasil penelitian menunjukkan, orang yang menjadi kaya karena bekerja keras, mereka lebih ingin menyimpan uangnya sendiri. Jika kamu mendapatkan ‘status yang tinggi’ melalui kerja keras, kata Magda, kamu lebih mungkin ingin mempertahankan apa yang kamu hasilkan.

Bahkan mereka yang mendapatkan label ‘orang kaya’ dari warisan justru akan berkontribusi lebih sedikit dibandingkan ‘orang kaya’ yang bekerja keras.

Ilustrasi. (Setiapsen.com)
Photo by Yanni Panesa on Unsplash

‘Orang miskin’ tak melulu karena ikhlas

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa alasan untuk barbagi pada kelompok ‘penghasilan rendah’ bukanlah murni karena sifat altruisme. Dalam bahasa kita, altruisme sepadan dengan kata ‘ikhlas’.

Saat menyumbang, kelompok ini menaruh harapan agar orang lain mengikuti jejaknya. Dan, mereka bisa mengambil keuntungan darinya. Mereka berpikir, semakin banyak uang yang dibagikan, akan semakin banyak pula pemberian orang lain untuk mereka.

Sifat tak sepenuhnya ikhlas itu, dibuktikan dengan temuan bahwa, tidak ada jaminan semua sukarelawan mengikuti jejak untuk menyumbang.

Empati tak berbanding dengan tindakan sosial

Temuan mengejutkan lainnya adalah, rasa empati ternyata tidak membuat orang ikut melakukan tindakan sosial. Magda mengklaim ini merupakan temuan penting. Sebab, selama ini banyak yang mengatakan bahwa empati membuat orang tergerak untuk melakukan tindakan sosial.

“Apa yang kami tunjukkan adalah ketika uang penting, empati hampir tidak berperan dalam meningkatkan perilaku pro-sosial,” kata Magda.

Penelitian lainnya menunjukkan hasil senada

Ilmuan dari Universitas California, Amerika Serikat juga pernah melakukan riset serupa. Penelitian ini membandingkan anak-anak dari keluarga kurang mampu dengan keluarga ekonomi kaya.

Metodenya hampir serupa. Dilansir CNNIndonesia.com, penelitian melibatkan 74 anak-anak prasekolah usia empat tahun. Mereka diberitahu oleh peneliti, bahwa mereka bisa mendapatkan 20 ‘koin’ dengan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan selama dua jam, yang nantinya bisa dijual untuk mendapatkan hadiah-hadiah.

Pada akhir percobaan, mereka diberi kesempatan untuk menyumbangkan beberapa koin untuk ‘anak-anak sakit fiktif’ yang tidak bisa hadir.

Anak keluarga kurang mampu lebih ikhlas

Hasilnya, anak-anak dari keluarga kurang mampu menunjukkan tingkat altruisme lebih besar, dibandingkan dengan anak dari latar belakang sosial ekonomi kaya.

Salah satu peneliti utama, Jonas Miller, mengatakan, orang dewasa yang memiliki gaya hidup sosial ekonomi kaya menunjukkan tanda meningkatnya fokus terhadap diri sendiri dan penurunan sensitivitas sosial. Ini juga dapat terdeteksi pada anak-anak juga.

Mungkin Penting Buat Kamu:

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close