People

[INTERVIEW] How OVO Changes Community Behavior and its Claims as the Pioneer of Upstream-Downstream Digital Payments

Produk yang resmi meluncur ke pasar Indonesia pada September 2017 ini terus berkembang dengan pesat. Kemitraan mereka dengan Grab dan belakangan Tokopedia menjadikan OVO sebagai platform pembayaran digital dengan basis pengguna yang cukup signifikan.

Berbagai kemitraan tersebut merupakan bagian dari strategi tiga pilar OVO untuk mengedukasi masyarakat Indonesia tentang pembayaran digital. Yakni melalui kemitraan dengan toko ritel dari (kelas atas sampai warung) dan dengan layanan online-to-offline (O2O) melalui kemitraan dengan Grab, dan melalui e-commerce.

Hasilnya, platform pembayaran digital besutan PT Visionet Internasional (Lippo Group) itu berani mengklaim telah memiliki 60 juta basis pengguna OVO dan potensi penambahan dari 80 juta pengguna aktif bulanan Tokopedia.

Angka tersebut bisa jadi belum apa-apa dibanding jumlah pengguna ponsel di Tanah Air. Direktur OVO, Johnny Widodo menyebut jumlah pengguna handphone mencapai 1,5 kali jumlah penduduk Indonesia. “Itu dibarengi dengan peningkatan jumlah pengguna aplikasi perbankan,” ujarnya.

Artinya, potensi pasar di industri teknologi finansial (tekfin) masih sangat menjanjikan. Peluang itu bukan tanpa tantangan. Masih perlu berbagai sentuhan untuk memajukan ekosistem tekfin di Tanah Air. Sebagai salah satu pemain tekfin, OVO punya tanggung jawab untuk memajukan ekosistem industri ini.

Berikut penuturan Johnny kepada Setiapsen.com saat ditemui di kantor OVO, di Lippo Kuningan, Jakarta Selatan.

Direktur OVO Johnny Widodo_setiapsen
Direktur OVO Johnny Widodo. (Setiapsen.com/Dok pribadi)
Seperti apa ekosistem tekfin di Indonesia?

Lanskap digital terbagi dalam tiga hal: permintaan, pasokan, dan penunjang. Dari sisi permintaan, secara generik, sudah mendukung. Terbukti dari jumlah pengguna handphone yang jumlahnya 1,5 kali jumlah penduduk atau sekitar 300-400 juta handphone.

Dari sisi suplai, industri cashless—saya belum bicara fintech—itu ada sekitar 5% dari total putaran uang yang ada saat ini. Kalau bicara digital payment, kurang-lebih 1%. Kecil sekali.

Kenapa? Kebiasaan orang Indonesia itu masih senang menggunakan cash. Orang akan bangga bila memegang uang banyak. Kedua, kalau bicara transaksi digital, kasus yang sering ditemui adalah orang susah top-up dan isu keamanan transaksi. Itu sebabnya sistem cash on delivery (COD) masih sangat disukai.

Dari sisi penunjang, ada dua hal yaitu pemerintah dan infrastruktur. Regulator sudah banyak sandbox policy. Kalau ada wilayah yang abu-abu, pemerintah menyarankan industri tetap jalan sembari menyiapkan peraturan yang menaungi. Pemerintah sudah bergerak dari sekadar regulator menjadi fasilitator bahkan akselerator.

Penunjang yang kedua adalah infrastruktur telekomunikasi. Ambil contoh, kita pakai 3-4 provider. Nyatanya, tidak semua bisa bekerja optimal di suluruh wilayah Indonesia. Bahkan di Jakarta saja, jaringan 4G belum merata.

Dengan semua ‘paket’ tersebut, apakah pasarnya menjanjikan?

Tentu saja. Karena kita bisa lihat makin banyaknya orang yang earlier technology adopted. Orang makin ingin digitalized.

Pemain di industri ini juga makin banyak. Kalau bicara di ranah tekfin, ada yang main di digital payment, peer to peer lending, risk management, dan macam-macam. Tapi, digital payment dan P2P lending masih mendominasi. Total sekitar 150 pemain.

Dengan habit yang ada sekarang, apa yang membuat OVO hadir di Indonesia?

OVO adalah nomor satu (pemimpin), dari sisi offline acceptance dan ketergunaan paling banyak. Saat masuk, OVO sudah membangun ketergunaannya-nya. Ini penting agar aplikasi tidak useless. Contoh, apakah kamu mau pasang aplikasi sebesar 50 Mb tetapi hanya dipakai seminggu bahkan sebulan sekali. Kamu tidak akan memakainya kan?

Dengan OVO, saya misalnya. Bangun, lalu berangkat ke kantor menggunakan Grab. Sampai kantor beli Maxx Coffee, bayar pakai OVO. Makan siang, pesan Grabfood, bayar pakai OVO. Malam, mau makan di warung sampai restoran paling mahal bisa bayar pakai OVO.

Kalau pakai kendaraan pribadi, parkir bisa bayar pakai OVO. Mau bayar internet, belanja online di Tokopedia bayar pakai OVO. Jadi, sekali instal orang akan susah pindah.

Masyarakat ‘dipaksa’ untuk mengubah habit menjadi cashless?

Yang bisa memaksa cuma Pak Jokowi (Presiden RI). Misal, beliau bilang semua gerbang tol harus nontunai, semua nurut. Nah, kalau saya, Johnwi. Tidak bisa memaksa. Hahaha….

Caranya bagaimana? Kita bikin sebuah hook agar orang mau download dan mau taruh uangnya sama kami. Kami berikan solusi untuk memudahkan kehidupan masyarakat.

Sekali instal OVO, mau transfer uang, bisa; beli reksadana, bisa; rumah sakit, bisa; bayar di warung sampai restoran bintang lima, bisa; belanja di Tokopedia, bisa; tiket bioskop, bisa; bayar Grab, bisa; apa saja bisa dilakukan. Hingga pada satu titik, tanpa saya kasih tahu apa-apa orang akan berubah behavior-nya.

OVO terlambat masuk di pasar….

Not really. Karena OVO ini kan offline acceptance. Sementara, definisi yang berkembang agak bias. (Platform) yang sudah ada sebelumnya, belum sepenuhnya offline acceptance.

Taruh contoh, dulu kita order makanan di ojek online. Kita bayarnya cashless. Tapi, tukang ojek bayar ke warung masih cash. Ini cashless-nya masih di internal perusahaannya saja.

Apakah Anda berani bilang OVO adalah pionir di cashless hulu sampai hilir?

Ya. Thats we are!

Segala yang berkaitan dengan uang, isu keamanan sangatlah krusial. Apa jaminan OVO untuk pengguna?

Kan kita punya izin dari OJK dan segala macam. Kalau duit (pengguna) hilang pasti kita kembalikan.

Dari sisi teknologi?

Sebelum menjawab itu, saya mau berbagi pengalaman. Suatu kali saat mau presentasi, koneksi dari laptop ke proyektor terputus. Teknologi yang sederhana seperti itu saja masih ada kendala. Kalau Anda tanya apakah saya berani jamin 100% teknologi kami berjalan tanpa isu? Tidak mungkin.

Kalau ada orang yang berani jamin 100% teknologinya berjalan smooth, itu bohong. Bahkan, perbankan pun tidak berani menjamin itu. Bank akan selalu bilang 99 koma sekian sekian persen. Pasti selalu ada celah keamanan. Sama, kami juga.

Yang pasti, kami selalu pastikan teknologi yang terbaik. Kalau sewaktu-waktu terjadi kendala, SOP harus jelas. Jangan sampai ada yang dirugikan.

Anda bilang bank berikan jaminan keamanan 99 koma sekian persen. Anda berani bilang OVO berapa persen?

Saya tidak berani bilanglah. Yang pasti kita selalu memperbarui teknologi. Memang di awal kami temui banyak masalah.

Namanya di awal, kami perlu kejar target untuk hadir di pasar. Sekarang saya kira (pengamanan) kami sudah hampir selevel dengan bank.

Bagaimana dengan integritas karyawan OVO?

Saya melihatnya ada dua hal. Ada yang bersifat persuasif ada yang punishment. Kalau persuasif, karyawan harus tahu bahwa kita adalah perusahaan ‘revolusi keuangan’. Artinya kita harus more trusted dibanding banklah. Kalau ada (karyawan) yang berani main-main, kita kasih punishment. Saya tidak bisa sebut punishment-nya.

Capaian OVO sampai saat ini; jumlah merchant, pengguna, dan transaksi serta nilainya?

Kita punya 60 juta database ditambah 80 juta database Tokopedia. Sekarang kita ada lebih dari 150 ribu merchant. Ada di 212 kota di seluruh Indonesia. Jumlah transaksi, data bulan lalu sebanyak 1 juta transaksi tiap hari. Nilainya saya tidak mau sebut. (san)

 

Mungkin penting buatmu:
Mau Ajukan Pinjaman Online? Simak Dulu Perusahaan yang Terdaftar di OJK
Banyak Pembeli Rumah Merugi karena Abaikan Hal Ini
Gajimu Kecil? Kamu Tidak Sendirian!

Tags

Related Articles

12 Comments

  1. Memperbanyak kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar baik itu ecommerce, perusahaan retail, perusahaan jasa adalah juga cara cepat ovo untuk lebih maju. Semakin banyak menjangkau masyarakat dan tidak ribet maka masyarakat tentu akan berpikir untuk tidak ragu menggunakan ovo karena masyarakat dimudahkan. IG : @nurcoolice_

  2. Ovo sangat membantu dalam hal pembayaran, karena adanya FINTECH Ovo saya tidak perlu lagi membawa uang cash dalam jumlah banyak, karena bisa saya top up ke Ovo dan dapat untuk membayaran berbagai keperluan saya.
    Instagram : zhafiranz

  3. Sampai saat ini saya belum instal ovo. dulu sempat pakai grab dengan ovo, tapi kemudian uninstall lagi. masih nyaman gak pakai ovo sekarang. tapi kalau terus terusan dapat email dari tokopedia buat aktivasi ovo, itu mengganggu juga.

    IG @el_fietry
    twitter @elfietry

  4. Ovo sangat membantu kebutuhan manusia2 milennial jaman sekarang apalagi dengan top up yang mudah dan banyaknya promo dan diskon yang dilakukan ovo untuk melakukan pembayaran tertentu membuat betah penggunanya.
    ig: @Yuzimumtaza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close